Tenun Ikat Eco and Zero Waste dari Maumere di Pameran Warisan 2022

Jakarta, GPriority.com – Salah satu stan tenun ikat pada Pameran WARISAN 2022 memamerkan produk-produk tenun ikat dari Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT yang eco friendly dan zero waste.

Tenun ikat ini 100 persen dibuat dengan alat tenun tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami, mulai dari benang hingga pewarna, sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Selain itu bahan-bahan ini juga tidak menghasilkan limbah atau zero waste.

Hal ini disampaikan Jia, staf marketing tenun ikat Flores pada kegiatan Pameran WARISAN 2022, Rabu (24/08). Lebih lanjut, Jia menjelaskan berbagai warna alami yang dihasilkan pada tenun ikat Sikka.

“Kalau kita warnanya itu dari tumbuh-tumbuhan seperti dari indigo atau daun nila. Ada juga dari kunyit untuk warna kuning. Kalau indigo untuk warna biru dan juga merah dari akar mengkudu. Kalau coklat dari kulit mahoni,” terang staf marketing tenun ikat Flores saat ditemui di standnya pada Rabu (24/08) di JCC, Senayan.

Tenun ikat Sikka memiliki motif yang beragam. Setiap motif memiliki filosofi tersendiri. Misalnya pada motif moko atau dama menggambarkan alat penabuh genderang perang pada zaman nenek moyang. Motif moko ini kemudian dilukis di atas kain dalam pola simetris sehingga tampak berbentuk belah ketupat.

Selain itu terdapat pula motif jentiu yang merupakan motif tertua dari Sikka. Motif ini berasal dari kepercayaan agama lokal masa itu. Ketika Bangsa Portugis datang ke Sikka, mereka membawa agama Katolik dan menyebarkannya, kemudian lahirlah motif jentiu.

Adapun motif ramu atau yang lebih dikenal dengan daun palem, menggambarkan perjalanan Yesus yang disambut menggunakan daun palem ketika memasuki Kota Yerussalem. Sedangkan motif rusa merupakan motif yang menyimbolkan flora dan fauna di Sikka pada masa lalu.

Proses pembuatan tenun ikat sendiri memerlukan waktu yang beragam tergantung dari permintaan dan fungsi serta kebutuhan tenun. Namun secara keseluruhan prosesnya membutuhkan waktu cukup lama.

Pada tenun ikat kontemporer atau yang biasa digunakan untuk kebutuhan fashion atau dekorasi, pengerjaanya bisa lebih cepat, sekitar 2 minggu saja. Sementara tenun ikat yang digunakan untuk keperluan adat memerlukan waktu hingga sekitar 3 bulan.

Prosesnya berawal dari menyiapkan peralatan, kemudian mendapatkan serat kapas, memintal benang, proses merentangkan atau mengikat benang pada goan atau frame, selanjutnya diikat sebelum kemudian diberi warna dan menenun benang hingga menjadi kain.

Sementara pada tenun ikat yang digunakan untuk upacara adat akan ditambahkan doa doa dan pewarnaan dilakukan secara berulang untuk menghasilkan warna yang lebih tebal dan gelap, sehingga tenun ikat upacara adat membutuhkan waktu pembuatan lebih lama.

“Jaman dulu ada proses khususnya, tapi itu untuk masyarakat zaman dulu. Tapi kalau sekarang dibuatnya seperti biasa direntangkan, tapi memang ada kain kain tertentu yang ketika diikat itu harus di dalam ruangan tidak boleh keluar,” katanya.

“Kalau yang kain tenun untuk adat lebih lama karena kita pakai pewarna alam. Jadi satu satu dibuatnya, terus warnanya juga banyak dan juga deep jadi harus diulang atau didouble. Jadi bisa 3 bulan,” jelasnya

Berbeda dari kain tenun kontemporer, terdapat larangan untuk memotong kain tenun ikat yang dibuat untuk keperluan upacara adat.

Tenun ikat Sikka-Maumere merupakan wastra asli NTT yang produksinya telah dilakukan turun temurun sejak zaman dahulu oleh kaum perempuan Sikka. Kain tenun ini telah banyak dipakai oleh desainer ternama Indonesia, seperti Didit Maulana, Dian Oerip, dan Dhewi Anindhita Laksmiwati atau Ita Selaras. (Vn)