Sejarah dan Spesifikasi KRI Teluk Bone 511 yang Akan Dihibahkan ke Pemkot Pariaman

Jakarta, Gpriority.com – Kota Pariaman, Sumatera Barat memiliki sejarah terkait Angkatan Laut (AL). Pada tahun 1946 diketahui, Kota yang terletak di Pantai Utara Sumatera Barat itu menjadi Markas Komando Tentara Kemanan Rakyat (TKR) Laut Sumatera Tengah, yang dikenal sebagai Markas AL Pangkalan Besar Pariaman. Untuk mengenang nilai sejarah tersebut Pemkot Pariaman pun berniat menghadirkan ex KRI Teluk Bone 511 sebagai museum bahari.

Pemkot Pariaman berniat menjadikan ex KRI Teluk Bone 511 sebagai museum bahari untuk pusat edukasi, sekaligus destinasi wisata agar mampu mendorong peningkatan perekonomian daerah. Demikian yang terungkap dalam audiensi Walikota Pariaman, Genius Umar dengan Wakil Menteri Pertahanan M. Herindra di Kementerian Pertahanan pada jumat (14/10) lalu. Wamenhan sendiri sangat mendukung upaya Pemkot yang menurutnya bisa disandingkan dengan program bela negara untuk membangkitkan semangat perjuangan. Hingga kini untuk mendapatkan hibah ex KRI Bone 511, Pemkot Pariaman masih menunggu proses persetujuan.

KRI Teluk Bone 511 diketahui memiliki nilai historis sangat tingggi. Sebelum diakuisisi TNI AL, KRI Teluk Bone 511 ialah milik US Navy yang bernama USS Iredell County dan digunakan pada Perang Dunia II tahun 1945-1946 hingga perang Vietnam tahun 1966-1970. Tepat pada tanggal 12 Desember 1970, USS Iredell County pun diserahkan kepada Pemerintah Indonesia dan berganti nama menjadi KRI Teluk Bone 511. Pada tahun 1990 KRI Teluk Bone 511 dialihbinakan ke Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Kapal jenis Landing Ship Tank (LST) ini memiliki panjang 100 meter dan lebar 15,5 meter. Dalam lingkup TNI AL kapal jenis LST mendapatkan nama awal Teluk yang ada di wilayah Indonesia. Teluk Bone diambil dari nama sebuah teluk yang berada di sebelah selatan Pulau Sulawesi.

Sebagai informasi, kapal ini dipersenjatai meriam 40mm dan 37mm anti serangan udara serta senapan mesin 12,7mm. KRI Teluk Bone 511 memiliki spesifikasi berat 2.160 ton dan mampu mengangkut hingga 200 orang. Kapal yang mampu mengangkut 17 tank ini sebelum dinonaktifkan pada tahun 2019 kerap dilibatkan dalam operasi militer baik baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Operasi-operasi tersebut antara lain Operasi Dwikora, Operasi Seroja Timor-Timur, Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya, TNI/ABRI Masuk Desa, pergeseran pasukan dalam rangka pengamanan daerah rawan (Pamrahwan), Pengamanan daerah perbatasan (Pamtas), pengamanan pulau-pulau terluar (Pamputer), maupun  operasi penanggulangan bencana alam di Padang, Nias, serta  tsunami di Aceh. (PS/dbs)