Mengenal Kampung Bajo Mola Wakatobi, Tuan Rumah GTRA Summit 2022

Jakarta, GPriority.co.id – Wakatobi, Sulawesi Tenggara dipilih sebagai tempat penyelenggaraan Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Summit 2022, yang berlangsung pada 8-10 Juni 2022. Wakatobi dianggap sebagai kabupaten yang mewakili semua catatan-catatan terkait pesisir dan maritim dari seluruh Indonesia.

GTRA Summit 2022 merupakan salah satu langkah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dalam menginisiasi kolaborasi lintas sektor dalam rangka mewujudkan Program Strategis Nasional (PSN) Reforma Agraria. Kegiatan ini akan menjadi wadah untuk pemberdayaan masyarakat maritim dan pesisir di seluruh Indonesia.

Terpilihnya Wakatobi sebagai tuan rumah GTRA Summit 2022 sangat wajar, mengingat wilayah, sejarah, dan tradisi masyarakat setempat yang akrab dengan perairan. Wakatobi adalah salah satu dari 10 wajah baru Bali yang terdapat di Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan keindahan lautnya. Nama Wakatobi merupakan gabungan dari nama empat pulau besar yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. 

Di Pulau Wangi – Wangi, tepatnya di Desa Mola inilah tinggal Suku Bajo yang dikenal sebagai orang laut karena masyarakatnya telah hidup di wilayah itu secara berkelompok, membentuk perkampungan rumah terapung sejak tahun 1600an. Tercatat sekitar 16.000 warga Suku Bajo bermukim di sini.

Kampung Bajo merupakan sebuah perkampungan yang unik, karena halaman rumah masyarakatnya adalah lautan dan sebagian transportasi di kampung ini adalah perahu. Kampung Bajo menumpuk karang sebagai alas untuk mengapung diatas laut atau menancapkan kayu dan mendirikan rumah di atasnya. Mereka memanfaatkan jembatan kayu untuk terhubung ke darat.

Mata pencarian Suku Bajo adalah nelayan. Hasil laut Suku Bajo dikenal lebih baik ketimbang orang darat. Kampung Bajo juga terkenal sangat bersih meskipun hidup di laut.

Keunikan lainnya dari Suku Bajo, yaitu orang-orang Suku Bajo asli mampu menyelam di atas rata-rata tanpa alat bantu apapun dan bisa bertahan menyelami air selama 13 menit. Hal diperkirakan karena Suku Bajo sudah dikenalkan dengan laut sejak mereka masih kecil.

Bukan hanya itu, orang-orang asli Suku Bajo juga mampu menyelam dengan kedalaman 70 meter. Kemampuan unik Suku Bajo ini juga yang membuat para peneliti dari luar negeri datang untuk meneliti Kampung Bajo Wakatobi. Menurut para peneliti, Suku Bajo adalah manusia pertama yang bisa beradaptasi secara turun temurun. 

Selain menjadi tempat tinggal Suku Bajo, desa ini juga memiliki pesona alam yang memukau dan banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Mulai dari menikmati pemandangan laut yang biru dan masih sangat terjaga, menikmati kuliner khas yang didominasi olahan seafood, naik sampan keliling kampung, bahkan melihat lumba-lumba yang berenang bebas. Warga Suku Bajo dengan senang hati akan mengantar wisatawan untuk sampai ke tempat lumba-lumba. 

Ada juga wisata menyuluh yang biasanya dilakukan pada malam hari. Menyuluh ini merupakan kegiatan menangkap ikan, gurita atau teripang dengan tombak. Namun, perjalanan untuk menangkapnya cukup jauh, yakni sekitar 2 jam untuk sampai di perairan samudera yang dangkal.

Bukan itu saja, wisatawan juga bisa melihat pertambakan laut seperti ikan, udang, lobster, dan lain-lain di bawah rumah warga. Wisatawan bisa menikmati hasil laut yang masih segar.

Jika tertarik mengunjungi Kampung Bajo Mola, para wisatawan bisa menginap di rumah warga agar bisa merasakan sensai hidup di laut. Namun, jika datang bersama rombongan, di sekitar Desa juga terdapat banyak penginapan. (Vn)