Makna 3 Waktu Mengerjakan Sholat Dhuha

Jakarta, GPriority.com – Sholat Dhuha merupakan salah satu ibadah sholat sunnah dalam Islam. Bagi yang menjalankannya akan mendapat pahala, tapi bagi yang tidak mengerjakan tidak akan mendapat apapun.

Meski bukan ibadah wajib, mengerjakan sholat dhuha sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW lantaran memiliki banyak keutamaan. Keutamaan dan pahala sholat dhuha ini tentunya bisa didapat apabila orang tersebut menjalankannya dengan benar dan konsisten.

Menurut Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu ceramahnya mengungkapkan bahwa waktu sholat dhuha dimulai sejak waktu syuruq atau awal dhuha. Yang dimaksud dengan waktu syuruq adalah pergerakan matahari dari posisi fajar terbit sampai bergeser kembali hingga bayangan sama dengan satu tombak. Atau ketika matahari berada pada posisi tengah.

Ustadz Adi Hidayat menjelaskan jika dibedakan berdasarkan waktunya, pelaksanaan sholat dhuha memiliki 3 pembagian waktu, yakni waktu awal, tengah, dan waktu akhir.

Waktu awal dhuha atau syuruq dimulai satu jam setelah waktu subuh atau sejak pukul 06.00 WIB atau bisa ditambahkan 15 menit hingga 90 menit setelahnya sampai matahari mulai bergerak naik, yaitu sekitar pukul 07.30 WIB.

Waktu syuruq atau awal dhuha ini dinilai sebagai waktu terbaik untuk mengerjakan sholat dhuha. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi.

Artinya: Dari Anas bin Malik RA dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang sholat Subuh berjamaah, kemudian dia duduk, dalam riwayat lain: dia menetap di masjid, untuk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia sholat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna.” (HR Tirmidzi).

Berdasarkan hadits di atas, orang yang mengerjakan sholat dhuha di waktu syuruq akan mendapat keutamaan berupa pahala yang senilai dengan haji dan umrah.

Pahala yang senilai dengan ibadah haji dan umrah di antaranya berpeluang mendapat surga dan rahmat dari Allah SWT serta mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik sebagaimana seorang haji mabrur.

Selain itu, pada hadits ini juga dijelaskan jumlah rakaat yang dikerjakan pada waktu syuruq umumnya cukup dilaksanakan sebanyak dua rakaat.

Keutamaan melaksanakan sholat dhuha di awal waktu sebagaimana dalam hadits lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi SAW.

Jabir bin Samurah RA berkata: “Bahwa Rasulullah SAW jika selesai melakukan sholat subuh, beliau duduk (berdzikir) di tempat beliau sholat sampai matahari terbit dan meninggi.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Namun demikian, keutamaan sholat dhuha seperti dijelaskan di atas tidak sama dengan mengerjakan ibadah haji dan umrah. Sebab yang dimaksud adalah pahala yang senilai dengan ibadah tersebut.

Sedangkan kemuliaannya bisa berbeda dengan orang yang beribadah di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan kemuliaan lainnya yang didapat dari melaksanakan haji dan umrah.

Sedangkan pelaksanaan sholat dhuha pada waktu pertengahan jika dilihat pada kondisi waktu saat ini, dimulai pada pukul 07.30 WIB atau 08.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB. Pada waktu ini, sholat dhuha umumnya dikerjakan sebanyak empat rakaat.

Salah satu keutamaan mengerjakan sholat dhuha pada waktu ini, yaitu sebagai dzikir seluruh anggota tubuh. Di mana pada hari kiamat nanti, seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi dari segala amalan yang telah diperbuat. Termasuk saksi dari dzikir yang dilakukan semasa hidupnya.

Selain itu, sholat dhuha yang dikerjakan secara konsisten juga mampu menghindarkan diri dari musibah umum yang mungkin terjadi. Misalnya seperti musibah banjir yang kerap melanda kampung yang ditinggali.

Melaksanakan sholat dhuha sebanyak empat rakaat bisa menjauhkan diri dari terkena musibah banjir yang menerjang rumah atau bahkan dirinya sendiri.

Terakhir, melaksanakan dhuha pada waktu akhir yang dimulai sejak pukul 10.30 WIB hingga menjelang adzan dhuhur. Umumnya dikerjakan sebanyak 2 hingga 8 rakaat yang dilaksanakan setiap dua rakaat dan satu kali salam atau setiap empat rakaat dan satu kali salam.

Menjalankan ibadah sholat dhuha pada waktu akhir mampu memudahkan datangnya rezeki. Meski demikian, sebaiknya alas an tersebut tidak menjadi motif utama dalam mengerjakan sholat dhuha karena dapat mengurangi keberkahan. Sebaiknya sholat dhuha dikerjakan dengan ikhlas dan murni ingin beribadah kepada Allah SWT.

Terkait hukum melaksanakan sholat dhuha sendiri atau berjamaah, sholat dhuha merupakan sholat sunnah yang dikerjakan secara sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.

Namun mengerjakan sholat dhuha berjamaah juga tidak dilarang. Salah satu contohnya apabila pada saat melaksanakan sholat dhuha yang selain untuk tujuan ibadah juga dipraktikkan untuk mengajarkan kepada orang lain. Di mana pengajar menjadi seorang imam sedangkan yang diajarkan menjadi makmum.

Hukum mengerjakan sholat dhuha berjamaah berasal dari kisah Rasulullah yang ketika itu mengerjakan sholat dhuha, lalu datanglah seseorang yang mengikuti sebagai makmum dan Rasulullah tidak melarangnya.

Meski demikian, sholat dhuha berjamaah sebaiknya dilaksanakan hanya dalam kondisi tertentu salah satunya seperti yang telah dijelaskan, dan tidak dilestarikan sebagai budaya atau kebiasaan. (Vn)