Hamzah, Sang Singa Pemimpin Perang Umat Muslim

Jakarta, Gpriority.com-Saat perang badar antara kaum muslim dan Quraisy, nampak terlihat sosok pria yang maju paling depan. Ia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.

Berkat keberaniannya, Hamzah mendapat julukan Singa Allah dari Nabi Muhammad SAW. Lantas siapakah sosok Hamzah yang dimaksud.

Dikutip dari berbagai sumber, Hamzah Bin Abdul Muthalib merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Usia Hamzah hampir sama dengan Rasulullah SAW. Dikatakan keduanya lahir pada tahun yang tidak jauh berbeda.

Hamzah memeluk Islam setelah 7 tahun Muhammad mendapatkan wahyu menjadi nabi dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan da’wah islam.

Mengetahui saudara sepupunya berada dipihak Muhammad, Abu Jahal yang merupakan paman Nabi dari golongan Kafir Quraisy memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan para pengikutnya.

Hamzah pun tidak tinggal diam, ia mencoba melindungi Rasullah dan para pengikutnya dari ejekan kaum Quraisy. Tak ayal peperangan pun terjadi pada tahun ke-2 Hijriah.

Dalam perang yang disebut badar, Hamzah bersama Ali bin Abi Thalib ditunjuk sebagai panglima perang. Keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan Islam, membuat kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gemilang. Banyak korban dari kaum kafir Quraisy dalam perang tersebut, dan tentunya mereka tidak mau menelan kekalahan begitu saja. Maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas kekalahan yang mereka alami sebelumnya.

Tak terima dengan kekalahan yang dialami, Suku Quraisy disertai beberapa kafilah Arab merencanakan pembalasan. Mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan diambil dan akan dimakan oleh Hindun yang memiliki dendam karena ayahnya Utbah bin Rabiah dibunuh oleh Hamzah.

Tahun ke-3 Hijriah Perang Uhud dan Syahid berkobar. Hamzah kembali memimpin kaum muslimin. Menyerang ke kiri dan ke kanan membuat kaum Quraisy kembali terpukul mundur ke belakang. Sayangnya harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud membuat silau kaum muslimin Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut. Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy.

Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak gerik Hamzah setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza. Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian depan di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh dan meninggal sebagai syahid.

Usai peperangan, Nabi Muhammad dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Tidak sedikit pun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa Arab telah merosot sedemikian rupa. Mereka merusak jasad Hamzah, merobek dadanya, dan mengambil hatinya.

Ibnu Atsir berkata dalam Usud al-Ghabah mengatakan, “Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu saat, dia tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya. Pada saat itu, ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu, hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq di dalam Sirah Ibnu Ishaq: “dari Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya, “Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu-bulu itu?” Aku menjawab, “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.” Lalu, Umayyah berkata, “Dialah yang membuat kekalahan kepada kami.”

Ketika dia melihat keadaan tubuh pamannya, dia sangat marah dan Allah menurunkan firmannya (QS an-Nahl ayat 126): “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Setelah itu, Nabi bersama kaum muslimin menyalatkan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Hamzah disalatkan, lalu dibawa lagi jasad seorang syahid untuk disalatkan sementara jasad Hamzah tetap dibiarkan di situ. Lalu, jenazah itu diangkat, sedangkan jenazah Hamzah tetap di tempat. Kemudian dibawa jenazah yang ketiga dan dibaringkan di samping jenazah Hamzah. Lalu Nabi dan para sahabat lainnya menyalatkan mayat itu. Demikianlah Nabi menyalatkan para syuhada Uhud satu per satu, hingga jika di hitung, maka Muhammad dan para sahabatnya telah menyalatkan Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.

Abdurrahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang di samping Muhammad dengan memegang 2 bilah pedang. Beliau juga salah satu syuhada yang darah masih mengalir dalam perang uhud. (Hs.Foto.Istimewa)