Gagal Nikah Perkara Sertifikat Rumah, Begini Mahar Terbaik Menurut Islam

Jakarta,GPriority.com-Kisah viral Yessi dan Ryan Dono yang gagal menikah karena sertifikat rumah membuat geger netizen Indonesia.

Pasalnya gagal menikah tersebut ditenggarai oleh permintaan mahar berupa sertifikat rumah oleh pihak perempuan yang tak dapat disanggupi oleh pihak laki – laki.

Disamping itu, Walaupun mahar bukan termasuk ke dalam syarat sahnya pernikahan, namun hukum memberikan mahar kepada calon mempelai wanita adalah wajib hukumnya. Menurut Islam pemberian mahar memiliki hikmah yang menunjukkan bahwa seorang wanita harus dihormati dan juga dimuliakan.

Hukum memberikan mahar ini tertuang jelas pada ayat Al-Qur’an surat an-Nisa (Q.S An-Nisa: 4). Dari hadist ini diketahui bahwa pemberian mahar dari pihak pria kepada wanita merupakan sesuatu yang wajib.

Untuk itu, bagaimana contoh mahar yang baik menurut ajaran islam. Berikut, penjelasannya.

  1. Tidak ada batasan dalam menentukan mahar
    Dalam Islam tidak ada batasan tertentu dalam menentukan mahar. Mahar juga tidak harus selalu berwujud materi duniawi seperti yang umum digunakan seperti seperangkat alat sholat, mobil, emas, hingga rumah. Bahkan mahar yang bersifat akhirat seperti memerdekakan budak, memberikan hafalan Al-Qur’an, atau hal-hal lain yang bermanfaat juga bisa dijadikan mahar.
  2. Mahar yang paling baik adalah mahar yang berguna dan bernilai bagi mempelai wanita
    karena nantinya mahar tersebut akan digunakan oleh pihak istri jika berwujud benda fisik. Atau jika berupa jasa juga yang bermanfaat bagi pihak istri seperti memberikan jasa mengajarkan Al-Qur’an dan lain sebagainya. Jadi walaupun jenis mahar ini bebas, pihak pria juga harus memikirkan mahar terbaik yang bisa dipersembahkan kepada istrinya nanti.
  1. Tidak memberatkan calon mempelai pria
    Untuk menentukan jenis mahar yang akan digunakan saat hari pernikahan juga bisa didiskusikan baik dari pihak calon mempelai wanita maupun calon mempelai pria. Dalam Islam sendiri, mahar paling baik adalah mahar yang tidak memberatkan calon mempelai pria. Oleh karena itu jika mempelai pria memberikan mahar dengan nominal yang cukup besar, maka sah-sah saja selama hal tersebut tidak memberatkannya.

Begitu pula jika mahar yang diajukan berupa jasa maupun hal-hal yang bersifat akhirat. Selama pihak wanita dan pria telah berdiskusi dan menyetujuinya, maka mahar tersebut akan diterima sebagai tanda bukti pernikahan.

Untuk itu, melihat kisah viral diatas mengajarkan kita bahwa terkhusus para wanita sangat dianjurkan untuk memperingan mahar agar pihak calon pria tidak merasa terbebani dengan berbagai urusan terkait mas kawin atau mahar, karena di dalam Islam sendiri mahar berfungsi sebagai syarat dan tanda pernikahan dan bukan sebuah tujuan utama yang harus dicapai.

Mahar pernikahan yang baik menurut Islam memang tidak ditentukan dari seberapa mahal dan bagusnya mahar yang diberikan, namun kembali lagi dari kesepakatan kedua belah pihak. Calon mempelai wanita yang baik akan menentukan mahar semurah-murahnya agar tidak memberatkan calon suaminya. Begitu pula calon suami yang baik akan berupaya untuk memberikan mahar sebaik-baiknya sebagai tanda kehormatannya terhadap calon istrinya.(Da)