Jakarta, GPriority.com-Dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai Implementasi Food Safety bagi UMKM Kuliner di Indonesia, P2MI bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan menggelar Talkshow di H Tower, Kuningan, Jakarta, Senin (12/12/2022).
Hadir sebagai pembicara Satria Gentur Pinandita Ketua Bidang Komunikasi P2MI (Persatuan Perusahaan Monorom Natrium Indonesia), Florentina Panti Rahayu Pemilik Coto Mangkasara dan Nursalim Nutrisionis ahli Madya Gizi dan KIA Kemenkes
Dalam sambutannya, Nursalim mengatakan, acara ini digelar agar pelaku UMKM dan juga media mengetahui pentingnya pengolahan makanan yang memenuhi syarat gizi dan makanan.
“Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pelaku UMKM terkait pengolahan bahan makanan yang memenuhi syarat gizi dan keamanan,” jelas Nursalim.
Yang pertama harus memenuhi prinsip gizi seimbang. Kedua, mampu sebagai zat tenaga, ketiga memenuhi prinsip sebagai zat pembangun dan terakhir sebagai zat pengatur.
“Itu semua terdapat di dalam makanan protein, nabati dan hewani. Sehingga saat menjual makanan aspek inilah yang harus diperhatikan,” jelas Nursalim.
Nursalim dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa untuk memenuhi gizi seimbang dalam tubuh tidak hanya membutuhkan 1 makanan saja melainkan semua makanan. “Kita membutuhkan 141 macam zat gizi. Dan kami telah melakukan penelitian tidak ada satupun makanan yang memilikinya kecuali ASI dan hanya dikonsumsi 0-16 bulan saja. Untuk itulah Kemenkes mempersilahkan memilih makanan apa saja yang penting mengandung protein, hewani dan nabati. Dan pastinya harus sesuai dengan takaran yang ditetapkan,” kata Nursalim.
Adapun takaran yang ditetapkan Kemenkes, setengah harus mengandung makanan dari sayur dan buah, setengah piring dibagi 2, sepertiga lauk pauk, 2/3 nasi.
Nursalim dalam kesempatan tersebut juga membantah bahwa Kemenkes telah mengeluarkan edaran mengenai pelarangan MSG atau penyedap rasa, karena diklaim menimbulkan beragam penyakit. “Kami tidak pernah menyatakan MSG tidak baik dikonsumsi, justru sebaliknya dianjurkan. karena mengandung lemak nabati yang mampu memproses asam amino.
Satria ketua bidang komunikasi P2MI sependapat dengan Nursalim. Menurutnya belum ada satupun kasus kematian dan penyakit yang disebabkan MSG.
“Saya bingung kenapa MSG selalu dikaitkan dengan penyakit dan proses pembuatannya yang tidak halal karena mengandung lemak babi. Untuk itulah kami meminta kepada rekan-rekan media untuk mempublikasikan bahwa MSG aman dikonsumsi dan halal. Karena mendapat sertifikat MUI dan BPOM,” ucap Satria.
Florentina Panti Rahayu Pemilik Coto Mangkasara juga menjelaskan pentingnya MSG dalam sebuah masakan. Yang pertama membuat rasa menjadi lebih lezat, kedua praktis dan disukai oleh wanita pekerja.
“Saya pernah mencoba mengganti MSG dengan memasak kaldu dari ayam dan sapi. Hasilnya berbeda dengan MSG. Saya pun diprotes oleh pelanggan. Untuk itulah saya kembali menggunakan MSG,” jelas Florentina.
Florentina juga tidak mempermasalahkan ada pengusaha kuliner, UMKM maupun pelanggan yang tidak mau menggunakannya. “Itu hak masing-masing orang, yang pasti menggunakan atau tidak itu pilihan. Dan Alhamdulillah selama menggunakan MSG saya masih segar bugar hingga saat ini,” kata Florentina menutup sambutannya. (Hs.Foto.Hs)
