Fakta Menarik Tentang Novel “Laut Bercerita” Karya Leila S. Chudori

Jakarta, GPriority.com – Novel berjudul “Laut Bercerita” merupakan novel fiksi terbitan tahun 2017 yang mengangkat tema historical, persahabatan, kekeluargaan, percintaan, dan rasa kehilangan.

Novel yang memiliki tebal 394 halaman ini ditulis oleh Leila S. Chudori yang sekaligus seorang wartawan Tempo.

“Laut Bercerita” mencerikan seorang aktivis bernama Biru Laut yang berani menyuarakan isu sosial pada pertengahan tahun 1991-1998.

Latar waktu dalam novel “Laut Bercerita” ini berada antara tahun 1991 – 2007. Cerita ini terbagi menjadi dua sudut pandang, yaitu dari kakak-beradik bernama Biru Laut dan Asmara Jati.

Fakta Menarik

  1. Ditulis Berdasarkan Fakta Orde Baru

Dilansir melalui laman resmi gramedia, Leila menegaskan bahwa cerita ini hanya historical fiction. Tetapi ia tetap melakukan riset mendalam sesuai dengan kebutuhan dalam cerita, artinya ia mengambil fakta pada masa itu melalui hasil risetnya.

  • Riset Langsung Dengan Korban Masa Orde Baru

Tokoh dalam “Laut Bercerita” memang memiliki karakteristik yang sangat kuat hingga memberikan kesan hidup sepanjang alur cerita. Hal ini berkat penguatan karakter yang di bentuk oleh Laila berdasarkan hasil riset wawancara dengan korban, kerabat korban, dan salah satu aktivis berhasil kembali pada masa 1998.

  • Penyelesaian Novel Memakan Waktu Kurang Lebih 5 Tahun

Proses pengerjaan novel “Laut Bercerita” harus memakan waktu hingga kurang lebih 5 tahun lamanya.

  • Berhasil Digarap dalam Bentuk Film Pendek

Novel “Laut Bercerita” berhasil digarap dalam bentuk film pendek yang memiliki durasi kurang lebih 30 menit. Diketahui film pendek ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara.

Sinopsis

Pada bagian Biru Laut, meliputi kisah di tahun 1991-1998, yang menunjukkan segala kepedihan dan ketakutan sebagai aktivis.

Laut merupakan seorang mahasiswa program studi sastra Inggris di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Kecintaannya pada karya sastra dibuktikan dengan banyaknya buku sastra klasik yang dimilikinya.

Laut bergabung dengan organisasi Winarta yang sebelumnya dikenalkan oleh temannya bernama Kinan. Kinan adalah mahasiswa FISIP yang tanpa sengaja bertemu di tempat fotokopian terlarang. Kala itu Laut diam-diam memfotokopi buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang saat itu peredarannya dilarang oleh pemerintah.

Semenjak bergabung dengan organiasi Winarta, Laut sering melakukan berbagai aktivitas bedah buku bersama dengan rekan-rekannya dan mengonsepkan program untuk menentang doktrin pemerintah yang dipimipin oleh presiden selama 30 tahun.

Salah satu aksi yang dilakukan sebagai bentuk gerakan membela rakyat adalah “Aksi Tanam Jagung Blangguan.” Sebelum aksi ini dijalankan, Laut beserta rekan-rekan yang lain melakukan diskusi terlebih dahulu, diskusi ini dikenal dengan Diskusi Kwangju.

Dari sinilah awal permasalahan dimulai, seharusnya diskusi tersebut berjalan lancar namun ada pihak yang berkhianat. Serangkaian kejadian yang tak diinginkan pun terjadi, mulai dari kedatangan intel ke tempat Diskusi Kwangju, penangkapan anggota Organisasi Winarta setelah melakukan “Aksi Tanam Jagung Blangguan”, hingga penyiksaan yang dilakukan oleh sekelompok orang tidak dikenal kepada Laut dan rekan-rekan Organisasi Winarta.

Sedangkan bagian Asmara Jati dimulai dari tahun 2000-2007, menceritakan keadaan keluarga yang kehilangan anggotanya akibat penculikan paksa. Kakak Asmara yaitu Laut juga menjadi salah satu korban hilang yang tak kunjung kembali.

Asmara juga melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan kabar terkait kakaknya dan orang-orang yang hilang. Seperti mendirikan lembaga khusus menangani orang-orang hilang secara paksa bersama rekan-rekannya dan keluarga dari teman-teman Laut yang juga belum ditemukan.

Asmara menaruh harapan pada pendirian lembaga ini agar Laut dan rekan-rekannya yang hilang mendapat perhatian dari pemerintah untuk segera dituntaskan dan tidak dilupakan karena habis dimakan waktu. (Gs)